Tomy Yunus: Ciptakan Ekosistem Pembelajaran Dengan Dukungan Teknologi

Ilustrasi oleh Disrupto

Ilustrasi oleh Disrupto

Banyak startup atau perusahaan rintisan dibangun atas dasar keahlian sang founder pada bidang tertentu. Ada pula founder yang membangun perusahaan rintisan karena memiliki pengalaman menjadi konsumen suatu barang atau jasa sehingga ingin berbagi pengalaman tersebut dan membuat sebuah perubahan. Tomy Yunus dan Yohan Limerta adalah para founder dalam kategori kedua. Di umur mereka yang sudah menginjak 23, Tomy dan Yohan baru mengenal bahasa asing yaitu Bahasa Inggris dan Mandarin. 

Awalnya, Tomy dan Yohan bertemu di Beijing, Cina, dan belajar bahasa Mandarin dari nol. Di kala itu, belajar bahasa asing belum semarak seperti sekarang ini. “Kami melihat pengalaman yang kami dapatkan di sana merupakan pengalaman berharga yang sangat bermanfaat bagi kehidupan kami. Dengan cara yang efektif dan efisien, dalam satu bulan kami dapat menggunakan bahasa Mandarin untuk keperluan sehari-hari seperti menawar saat berbelanja dan berbicara dengan supir taksi. Saya bahkan berkesempatan untuk mendapat beasiswa di universitas ternama di Beijing. Bahkan saya juga sempat mendapat kesempatan bekerja di perusahaan besar di sana karena memiliki kemampuan berbahasa asing. Akhirnya, saya menyadari bahwa satu kemampuan tambahan saja bisa mengubah hidup,” cerita Tomy. 

Berbekal pengalaman diajarkan bahasa Mandarin secara efektif dan efisien serta latar belakang pendidikan di bidang Ilmu Komputer, mereka pun memulai sebuah perusahaan kecil bernama CAKAP. Pertama kali didirikan, CAKAP adalah layanan belajar bahasa Inggris dan Mandarin saja. Tomy meyakini bahwa pengalamannya di Beijing dulu dapat memberikan solusi untuk lebih banyak orang untuk meningkatkan kemampuan berbahasa. Namun semakin berkembangnya bidang edutech (education technology), CAKAP berevolusi menjadi sebuah platform yang menawarkan layanan pada pengguna untuk mengembangkan berbagai kemampuan lain seperti marketing

Sumber foto: CAKAP

Sumber foto: CAKAP

“Sebelum pandemi, masih banyak orang yang skeptis pada teknologi sebagai pengganti sarana edukasi. Pembelajaran lewat digital dulu masih dianggap sebagai sebuah solusi alternatif. Tapi sekarang digital dapat dipertimbangkan bisa jadi pengganti sarana edukasi tatap muka konvensional”, jelas Tomy lagi. Kita harus mengakui di awal pandemi memang masyarakat masih perlu beradaptasi untuk mengenyam edukasi dengan memanfaatkan teknologi. Namun faktanya, banyak manfaat yang bisa ditawarkan teknologi untuk industri edukasi.

Pertama adalah soal akses. Lewat pembelajaran secara daring, lebih banyak orang dapat memiliki akses pada konten pendidikan yang sama. Selain itu, para pengajar juga bisa tetap menerima pendapatan dengan cara yang aman di rumah. Kedua, konten pembelajaran secara daring juga dapat amat bervariasi. Bahkan dalam satu waktu, para murid dapat mengasah beberapa kemampuan yang berbeda dengan pendekatan yang berbeda-beda pula. Bisa dengan cara webinar, live interaction atau bahkan sekadar menyaksikan video. Dengan demikian, pengalaman belajar para murid atau pengguna platform edutech dapat lebih kaya dan beragam. 

Lewat pembelajaran secara daring, lebih banyak orang dapat memiliki akses pada konten pendidikan yang sama.

Ke depannya, Tomy mengakui bahwa CAKAP diharapkan dapat lebih meningkatkan kualitas hidup masyarakat lewat edukasi dan teknologi. Ia melanjutkan, “Pemerintah sedang merencanakan untuk mencapai visi Indonesia emas 2045 yang mana sumber daya manusia jadi fokus utama. Indonesia membutuhkan 3,8 juta pekerja dengan kemampuan yang mumpuni setiap tahunnya. Sekarang ini penetrasi dalam infrastruktur internet sangatlah tinggi. Angkatan kerja kita juga sangatlah besar. Di saat yang sama, teknologi bisa membantu tercapainya gol tersebut meskipun perjalanan kita masih amat panjang. Di sinilah CAKAP ingin berkontribusi untuk mendorong pengembangan sumber daya manusia di Indonesia. Salah satunya adalah dengan membuat platform baru yaitu CAKAP Upskill.”

CAKAP diharapkan dapat lebih meningkatkan kualitas hidup masyarakat lewat edukasi dan teknologi.

Menerangkan lebih jauh, CAKAP Upskill dirancang untuk para pengguna mengembangkan kemampuan praktikal yang berhubungan dengan berbagai bidang pekerjaan seperti marketing, teknologi, hingga tata boga. Fitur tersebut sekarang sudah menghasilkan lebih dari 100.000 alumni di tahun 2021. Sementara untuk inovasi fasilitas dan layanan, CAKAP sudah mulai memunculkan teknologi Augmented Reality (AR) agar kelas-kelas yang terdapat dalam aplikasi CAKAP dapat lebih engaging bagi para pengguna. Terutama anak-anak. Sekarang ini CAKAP sedang ancang-ancang untuk berinvestasi di AI dan machine learning untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih personal. 

Sumber foto: CAKAP

Sumber foto: CAKAP

Sementara itu, berbicara soal melancarkan edukasi pada masyarakat, CAKAP percaya kuncinya adalah di kolaborasi. “Sebagian besar masyarakat Indonesia sebenarnya bisa dikatakan cukup tech savvy. Terbukti dari total pengguna medsos yang masuk dalam urutan atas pengguna di seluruh dunia. Saya percaya zamannya kolaborasi. Market Indonesia sangat tech savvy. Apalagi sekarang ini masyarakat sudah mulai terbiasa dengan platform digital untuk belajar. Bahkan banyak ide-ide baru muncul untuk meningkatkan pengalaman belajar daring.”

Berbicara soal melancarkan edukasi pada masyarakat, CAKAP percaya kuncinya adalah di kolaborasi.

CAKAP telah berkolaborasi dengan perusahaan besar penyedia layanan komunikasi di Indonesia dengan memberikan kursus-kursus pada pengguna mereka. CAKAP juga telah bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif selama pandemi untuk membantu meningkatkan kemampuan masyarakat yang dirumahkan. Solusi ini terbukti bermanfaat mengetahui di masa pandemi, industri pariwisata adalah salah satu yang paling dirugikan. 

Sejauh ini, berbagai solusi yang CAKAP luncurkan di masyarakat direspon cukup baik. Aplikasi CAKAP sudah diunduh oleh hampir 1 juta orang dengan rating yang tinggi. Tomy percaya dengan terus mendengarkan pasar, pengamatan yang mendalam tentang perilaku orang Indonesia untuk belajar, CAKAP bisa terus berevolusi. Terutama untuk menciptakan sebuah learning ecosystem yang menghadirkan kelas interaktif, yang dapat menghubungkan para murid dengan guru profesional dari berbagai negara di Asia Pasifik seperti dari Filipina, Jepang, dan Cina.

“Untuk mendukung kehadiran learning ecosystem ini tentunya dukungan teknologi dibutuhkan. Kami punya learning management system untuk mengatur sistem penjadwalan antara murid dan guru. Karena pembelajaran dalam CAKAP merupakan pembelajaran dalam periode panjang, sistem ini dapat membantu murid dan guru untuk memonitor progres belajar dengan lebih mudah. Sebenarnya, kami masih tetap menggunakan mekanisme mengajar yang sudah ada tapi kami bawa ke dunia digital agar dapat lebih efektif dan efisien.” Tutup Tomy.

Previous
Previous

Pembangkit Listrik Tenaga Surya Akan Jadi Sumber Energi Utama Masyarakat Urban?

Next
Next

Pinjaman Online, Aman Atau Tidak?