Tobias Ivandito Margogo Silalahi: Permudah Komunikasi Dengan Teman Tuli Dan Bisu
Ilustrasi oleh Disrupto
Terinspirasi dari kedua orang tua yang bekerja di dunia teknologi, Tobias Ivandito Margogo Silalahi banyak melakukan eksplorasi untuk berinovasi menciptakan hardware. Namun setelah mencoba mendalami pembuatan sebuah perangkat keras, ia menemukan ternyata implementasi kegunaan sebuah hardware memakan waktu lama. Tobias pun beralih ke dunia computer science yang mempertemukannya pada berbagai kesempatan untuk bereksperimen membuat software atau perangkat lunak.
Ia menemukan ternyata aplikasi perangkat lunak dapat memberikan dampak lebih cepat dan efektif untuk kehidupan kita sehari-hari. Kesadaran tersebut datang setelah ia berhasil menciptakan perangkat yang dapat mengendalikan berbagai peralatan elektronik di rumahnya. Hanya dengan satu perangkat, satu klik, ia bisa mengatur kapan lampu dan AC di rumah harus hidup dan mati. Setelah mengetahui bahwa mengembangkan perangkat lunak ternyata tidak membutuhkan waktu selama pengembangan perangkat keras, Tobias pun semakin terdorong untuk berkecimpung di area tersebut.
Pada saat mengikuti program Bangkit 2021 yang digagas oleh Google, mahasiswa jurusan Teknik Elektro di Universitas Indonesia ini melakukan eksplorasi ide bersama lima anggota tim lainnya: Timotius Haniel dan Thomas Ken Ronaldi, Gita Ayu Salsabila, Muhammad Rizky Perdana, dan Michelle Octavia Yolanda Sari. Dari berbagai gagasan yang dikumpulkan, mereka sepakat untuk mengembangkan sebuah aplikasi Android yang dapat membantu masyarakat belajar bahasa isyarat serta menerjemahkan bahasa isyarat ke bahasa Indonesia.
Dinamakan aplikasi Bacara, Tobias menyatakan bahwa mereka terinspirasi menciptakan platform yang dapat mempermudah komunikasi dengan teman tuli dan bisu setelah menyadari adanya kesulitan komunikasi antara kita dengan teman tuli dan bisu. Pengalaman kesulitan berkomunikasi berasal dari Timotius yang melakukan kunjungan ke salah satu Sekolah Luar Biasa di mana beberapa murid menggunakan bahasa isyarat. Selain itu, Tobias juga menyadari adanya kebutuhan untuk belajar bahasa isyarat setelah menyaksikan tayangan ibadah secara daring dan melihat seorang penerjemah bahasa isyarat pojok layar. Akhirnya mereka merasa ada kebutuhan untuk melancarkan komunikasi dengan para teman tuli dan bisu agar kita dapat menciptakan komunitas yang inklusif di masyarakat.
Setelah melalui riset panjang, mereka mencoba menerapkan sistem AI (Artificial Intelligence) dalam aplikasi. Terdapat program yang dapat menangkap gerakan tangan untuk menyampaikan pesan dalam bahasa isyarat dan langsung menerjemahkannya ke bahasa Indonesia. Begitu pula sebaliknya, dari suara dijadikan teks untuk dapat mempermudah para teman tuli dan bisu memahami pesan yang disampaikan.
“Yang menarik adalah kami tidak hanya membuat aplikasi ini untuk membantu kita berkomunikasi dengan teman bisu dan tuli, tapi juga untuk menghubungkan komunitas teman-teman bisu dan tuli. Kami pun baru tahu, ternyata bahasa isyarat bisa berbeda-beda tergantung aksen dan dialek dari asal mereka masing-masing. Maka dari itu, kami ingin mengumpulkan komunitas-komunitas yang ada di berbagai provinsi untuk menghubungkan mereka”, tambah Tobias lagi. Dengan melakukan pendekatan ke berbagai komunitas teman bisu dan tuli, mereka juga sekaligus dapat melakukan konfirmasi user experience. Jadi, mereka bisa menanyakan seberapa besar manfaat aplikasi Bacara untuk para pengguna serta mengetahui kendala-kendala yang nantinya dapat diperbaiki.
Berbicara tentang masa depan, Tobias yang mengambil peran sebagai Co-founder sekaligus Android Developer di Bacara memiliki impian untuk berkecimpung di dunia pendidikan.
“Setelah menyadari kurangnya digital literasi di Indonesia. Jika bisa diamati secara cermat, hanya orang-orang yang punya privilese saja yang bisa mengenyam digital literasi. Ironisnya, segala ilmunya tersedia di dunia maya. Saya rasa Indonesia perlu lebih banyak orang yang dapat menyebarluaskan tentang perkembangan teknologi. Bahkan sebenarnya lebih penting lagi adalah untuk mengajarkan cara membuat teknologi tersebut. Saya mau mengambil peran di dunia pendidikan untuk turut mendorong perkembangan industri digital di Indonesia. Saya percaya dengan teknologi digital, kita sebenarnya dapat lebih mudah untuk mengembangkan industri teknologi di dalam negeri”, ungkapnya.