Muhammad Agung Saputra: Upaya Selamatkan Sumber Pangan

Ilustrasi oleh Disrupto

Ilustrasi oleh Disrupto

Seusai lulus dari jurusan biologi ITB, Muhammad Agung Saputra banyak terlibat dalam beberapa proyek yang sehubungan dengan lingkungan. Namun pria yang kerap kali disapa Agung ini ternyata merasa bidang ekologi sangatlah luas cakupannya. Ia pun melanjutkan pendidikan S2 di Imperial College London untuk mengenyam pendidikan di jurusan teknologi lingkungan. Selama mengenyam pendidikan pascasarjana, minat Agung di bidang pertanian dan limbah pangan mulai muncul. 

Salah satu alasannya adalah karena setiap kali mengambil mata kuliah ekonomi lingkungan, Indonesia sering sekali menjadi contoh studi kasus soal limbah pangan. Apalagi di kelas tersebut ia merupakan satu-satunya mahasiswa dari yang lahir dan tinggal di Indonesia. Agung mengakui ada rasa tidak nyaman ketika mendengar Indonesia di mata global terkenal dengan kondisi lingkungan yang buruk, penyumbang sampah plastik terbanyak kedua, serta sungai terkotor keempat di dunia. Inilah yang kemudian memotivasi Agung untuk kembali ke Indonesia dan berpartisipasi dalam pencarian solusi. 

Setelah melakukan berbagai riset, Agung menemukan bahwa permasalahan limbah pangan di Indonesia semakin besar. Berbagai upaya yang sudah dilakukan dinilai belum terlalu efektif. Padahal isu limbah pangan sama buruknya dengan isu sampah plastik. Data terbaru dari Bappenas pada tahun 2021, kerugian yang ditimbulkan oleh limbah plastik hampir mencapai 500 triliun Rupiah. Jumlah limbah makanan di Indonesia rata-rata 13 juta ton per tahun. Baik dari pelaku bisnis maupun individu memiliki perannya dalam menumpuk limbah pangan. Selain ini adalah tindakan membuang-buang uang, limbah pangan juga dapat amat membahayakan lingkungan karena adanya gas CO2 atau gas metana yang dihasilkan dari limbah pangan. Gas yang terlepas ke lapisan atmosfer bisa memperburuk krisis iklim yang sudah ada.

Photo by Oleg Magni from Pexels

Photo by Oleg Magni from Pexels

Sementara itu berdasarkan laporan Euromonitor International, tingginya populasi Indonesia yang diprediksi akan mencapai hingga 300 juta orang pada tahun 2030 dapat membuat isu limbah pangan semakin parah. Peningkatan populasi membutuhkan sumber pangan yang berkelanjutan hingga bisa terus tersedia. Jika masyarakat masih membuang-buang makanan, kita dapat kehilangan sumber pangan dan mendorong timbulnya isu-isu kemanusiaan serta lingkungan lainnya. Hadir untuk merespon isu ketahanan pangan tersebut, Agung menciptakan Surplus, sebuah inovasi yang mengawinkan teknologi dan sustainability untuk mengurangi permasalahan limbah pangan dan untuk mencapai ketahanan pangan.

Fokus Surplus ada dua yaitu pencegahan terjadinya food waste dan food loss dari hulu dengan mencegah terjadinya timbunan makanan berlebih & produk imperfect yang masih layak dan aman untuk dikonsumsi namun karena belum terjual dihari itu, sehingga berpotensi termubazirkan secara percuma.  Dengan menitikberatkan pada dua isu tersebut, Surplus diharapkan dapat berkontribusi untuk mengurangi 20% limbah pangan dan mengurangi risiko ketidaktersediaan makanan di tahun 2030. Pada dasarnya, aktivitas operasional Surplus ada dua: (1) mengatasi permasalahan limbah makanan dalam lingkup di pelaku usaha melalui teknologi aplikasi sebagai bisnis model dan (2) Melakukan edukasi dalam skala rumah tangga melalui kegiatan oleh komunitas Surplus.

Aplikasi surplus hadir untuk menghubungkan para pelanggan dengan pelaku usaha yang menjual produk makanannya yang berlebih atau yang memiliki produk dengan tampilan kurang menarik (biasanya sayur atau buah yang tidak lolos masuk ke supermarket meski kualitasnya masih bagus). Singkatnya, Surplus menjual produk yang masih layak konsumsi, berkualitas, dan aman. Bukan makanan sisa sehabis dikonsumsi. Produk-produk tersebut dijual dengan harga yang lebih murah (umumnya potongan harga 50%) karena jumlahnya berlebih namun tidak lagi bisa disimpan untuk waktu yang lama. 

“Intinya, kami tidak menjual produk makanan setelah jam tutup. Semua produk masih dalam kualitas bagus, hanya saja ketimbang harus dibuang lebih baik dijual dengan harga yang lebih murah setengah harga. Dengan begini, produk-produk tersebut akan bertemu dengan pasar yang tepat yaitu masyarakat dengan status sosial low-middle income atau berpenghasilan kecil-menengah. Maka, mereka yang berada dalam lingkaran low-middle income bisa menikmati makanan yang biasanya hanya bisa dibeli oleh lapisan masyarakat dengan high income”, Agung menjelaskan lebih rinci. 

Lebih jauh lagi, Agung menerangkan bahwa  sumber limbah pangan banyaknya berada di para pelaku usaha dan rumah tangga, “Kami ingin bisa mengurangi keduanya. Selain dengan menjual makanan berlebih yang masih aman dan layak konsumsi dari para pelaku usaha lewat aplikasi, kami juga membangun yayasan Surplus Peduli Pangan di mana anggotanya disebut komunitas Surplus. Tujuannya untuk menyebarkan kesadaran dan meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam membangun komunitas peduli limbah pangan. Komunitas ini melibatkan relawan dan masyarakat dengan visi misi sama untuk mengurangi limbah makanan. Kegiatannya bervariasi, mulai dari kegiatan menyelamatkan pangan, membagikan makanan dari para pelaku usaha ke warga yang kurang beruntung, hingga menyebarkan kampanye sosial.”

Image courtesy of Surplus

Image courtesy of Surplus

Dari awal Agung menyadari bahwa tantangan meningkatkan kesadaran masyarakat atas limbah pangan pasti cukup sulit. Nyatanya, masih banyak stigma negatif tentang limbah pangan di masyarakat kita. Tapi inilah yang menjadikan Indonesia penyumbang sampah terbanyak di dunia, sebab banyak dari masyarakat yang tidak peduli. Utamanya, tantangan sering berasal dari para pelaku usaha. Belum ada kebijakan atau regulasi yang jelas mengatur tentang limbah pangan. Tidak heran banyak pelaku usaha menolak untuk bergabung dan lebih memilih untuk langsung membuang makanan berlebih yang tidak terjual di hari itu. Sementara para pelaku usaha yang memiliki high brand menolak karena khawatir citra brand akan buruk jika menjual makanan yang belum terjual. 

Padahal sebenarnya bergabung dalam Surplus dapat memberikan nilai tambah bagi sebuah brand yaitu nilai kepedulian terhadap lingkungan (green label). Pelaku usaha  juga sebenarnya akan mendapat keuntungan  selama pandemi dari makanan yang berlebih dapat lebih banyak terjual dibandingkan kehilangan margin 100% untuk setiap makanan yang terbuang sia-sia. Namun, di luar semua itu, Agung berharap kehadiran Surplus paling tidak bisa membuka pembicaraan tentang rencana diadakannya kebijakan atau regulasi limbah pangan sehingga akan lebih banyak pelaku usaha F&B serta hotel yang dapat mengikuti zero food waste movement ini di tahun ini. Maka,  dapat tercapainya ketahanan pangan selama masa pandemi.

Previous
Previous

Tobias Ivandito Margogo Silalahi: Permudah Komunikasi Dengan Teman Tuli Dan Bisu

Next
Next

Jaringan 5G Dorong Inovasi Augmented Reality