Pelarian Ke Dunia Binatang

D-Journal-3-Animal_Crossing-web-01-01.jpg

Pada 20 Maret lalu, Nintendo baru saja merilis sebuah game berjudul Animal Crossing: New Horizon untuk platform Nintendo Switch milik mereka bertepatan dengan mulainya karantina dan penerapan lockdown di berbagai negara karena pandemi COVID-19. Game ini merupakan judul terbaru dari seri permainan elektronik yang dikembangkan Nintendo sejak 2001. Dalam waktu tiga hari, game ini telah terjual sebanyak 1,88 juta kopi – mengalahkan rekor yang dipegang oleh game Super Smash Bros sebelumnya yang popularitasnya justru sebenarnya lebih tinggi.

Lalu apa yang membuat Animal Crossing begitu memikat – terutama bagi para milenial? Sebelum membahas lebih lanjut, mari simak bagaimana mekanisme game ini berjalan. Dalam Animal Crossing, pemain mengambil peran sebagai karakter manusia – dengan desain cute ­– yang tinggal di pulau berskema warna pastel jaman sekarang dan berinteraksi dengan karakter lain berupa binatang antropomorfik (berperilaku seperti manusia – red). Pemain pun hanya diberikan tugas-tugas sederhana seperti membangun rumah dengan mengumpulkan material seperti kayu, dedaunan, dan ranting, atau mengumpulkan serangga, fosil, dan ikan untuk didonasikan ke museum pulau. Sesederhana itu. Dalam game ini tidak ada high scores, boss terakhir, atau jumpscare seperti zombie atau ledakan yang bisa mengagetkan kita saat bermain. Animal Crossing benar-benar hanya perlu dimainkan dengan kecepatan perlahan – rileks.

Menurut Rishi Chadha, Global Head of Gaming Partnership di Twitter, saat ini Animal Crossing telah menjadi game nomor satu yang paling banyak dibicarakan mengalahkan game fenomenal Fortnite. Masih menurutnya, pertumbuhan percakapan pengguna Twitter mengenai Animal Crossing benar-benar meroket. Volumenya percakapan meningkat lebih dari 1.000 persen dan jumlah pengguna Twitter yang membahas game ini pun meningkat hingga 400 persen. Berdasarkan pengamatan, ada kurang lebih 38 juta tweet yang membahas game ini sejak dirilis akhir bulan lalu. Kebanyakan dari tweet tersebut memuji kemampuan game ini untuk memberikan perasaan nyaman dan koneksi sosial – dua hal yang begitu dibutuhkan banyak orang di masa karantina karena COVID-19 ini.

Animal Crossing mampu memberikan perasaan nyaman dan koneksi sosial – dua hal yang begitu dibutuhkan banyak orang di masa karantina karena COVID-19 ini.

Fitur permainan online yang dimiliki oleh Nintendo Switch pun dimanfaatkan dengan baik oleh Animal Crossing. Dengan fitur tersebut, kita bisa mengunjungi pulau milik teman-teman kita yang juga memainkan Animal Crossing, atau sebaliknya. Mungkin memang selama karantina ini kita tetap terhubung dengan mereka lewat pesan-pesan singkat di WhatsApp atau meeting singkat di Zoom, namun interaksi di game ini cukup memberikan pengalaman yang berbeda. Di Animal Crossing, kita bisa dengan bebas berlarian di luar rumah bersama teman sambil menangkap berbagai serangga, memancing, atau mengambil buah-buahan di pohon – tanpa harus memperhatikan physical distancing dan takut terjangkit virus corona. Sebuah kemewahan di masa-masa saat ini, bukan?

Saya sendiri hampir setiap hari – siang atau malam – mengundang beberapa teman untuk mengunjungi pulau saya hanya untuk melihat-lihat museum atau duduk di pinggir pantai sembari chatting dengan mereka lewat fitur komunikasi yang ada. Rasanya seperti ditransportasi ke dunia lain yang cukup utopis. Meski maya, namun tetap saja menyenangkan.

Screenshot dari game yang dimainkan penulis

Screenshot dari game yang dimainkan penulis

Saya pun mencoba mencari tahu mengapa Animal Crossing ini bisa memberikan sebuah sensasi menyenangkan bagi psikologis pemainnya – termasuk saya. Seorang pengajar di Glasgow Caledonian University di Skotlandia bernama Dr. Romana Ramzan menyampaikan pada New York Times, “Tidak ada hal menjijikan dan tidak ada kekerasan yang eksis (di Animal Crossing). Pemain terserap pada aktivitas sehari-hari tanpa ada konsekuensi di dunia nyata.” Menurutnya, pemain seperti ditarik masuk ke dalam semesta paralel (parallel universe – red.) yang selama ini diinginkan namun tidak pernah didapatkan.

Dr. Romana juga mengatakan bahwa game dengan gameplay yang sebenarnya agak kekanakan ini menjadi eskapisme bagi pemainnya – terutama generasi milenial – di saat resesi dan situasi krisis seperti saat pandemi COVID-19 ini. Banyak dari kita yang merasa cemas dan gelisah dengan situasi saat ini hingga beralih ke obat-obatan atau alkohol. Namun dengan gameplay yang ringan dan rileks, Animal Crossing memberikan sebuah pemberdayaan dan perasaan guyub – sesuatu sangat yang kita butuhkan saat ini.

Dengan kemampuannya untuk membantu kita bersosialisasi tanpa harus keluar rumah serta memberikan relaksasi, bukan tidak mungkin Animal Crossing ini menjadi prototipe game masa depan yang bisa menjadi platform permainan dan komunikasi secara sekaligus.

Previous
Previous

Menanti Test Kit COVID-19 Buatan Indonesia

Next
Next

Revolusi Mobil Otonom Dimulai