Pelajar Madrasah Ciptakan Teknologi Canggih

Ilustrasi oleh Disrupto

Ilustrasi oleh Disrupto

Internet of Things (IoT) merupakan suatu sistem dimana objek dapat mentransfer data melalui jaringan tanpa memerlukan interaksi manusia dengan perangkat komputer. IoT dapat terbentuk dari berbagai unsur, mulai dari Kecerdasan buatan (AI), konektivitas, sensor, dan lain sebagainya. Salah satu contoh IoT sederhana adalah pintu otomatis yang biasa ditemukan di pusat perbelanjaan maupun kantor. Pintu kaca akan bergeser terbuka ketika kita mendekatinya. Hal tersebut dapat terjadi dikarenakan pintu tersebut dilengkapi dengan sensor yang dapat mengukur jarak manusia saat mendekatinya dan akan secara otomatis terbuka ketika sudah melewati batas jarak yang ditentukan. Belakangan ini IoT tengah berkembang pesat diiringi dengan kemajuan teknologi wireless dan juga internet. Kementerian Agama (Kemenag) dan PT XL Axiata melakukan pengembangan IoT di Indonesia melalui program inkubasi Akademi Madrasah Digital 4.0. Program tersebut dilaksanakan oleh para pelajar madrasah dan dilatih langsung oleh pengajar ahli dari Laboratorium IoT X-Camp milik XL Axiata.

Cara mengikuti program tersebut pun terbilang cukup sederhana. Para peserta mengikuti program dari rumah atau sekolah masing-masing yang tersebar di 22 kota atau kabupaten, dari 10 provinsi. A. Umar, Direktur Kurikulum Sarana Kelembagaan dan Kesiswaan Madrasah, menyebutkan bahwa program Akademi Madrasah Digital adalah bentuk respon untuk melakukan proses transformasi digital di berbagai madrasah. Hadirnya program ini menjadi momentum bagi siswa-siswi madrasah untuk unjuk kemampuan di bidang teknologi.

Ada lebih dari 1.300 peserta dari 250 Madrasah Aliyah yang mengirimkan makalah tentang IoT. Hasilnya, terpilih 22 kelompok peserta yang terdiri dari 110 pelajar untuk mengikuti program Inkubasi Akademi Madrasah Digital tersebut. Dari semua karya para pelajar, terpilih tiga karya terbaik yaitu solusi IoT bernama Skyrone untuk memantau lahan jagung hasil karya Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendikia dari Tanah Laut, Kalimantan Selatan, yang meraih predikat sebagai “The Most Innovative”. Mustech, solusi untuk memantau suhu dan kelembaban jamur tiram karya MAN 2 Majalengka yang dianugerahi kategori “The Most Marketable”. Serta Aquiots, solusi sistem akuaponik untuk urban farming karya MA Darussalam Jombang yang dinobatkan sebagai “The Most Applicable”.

Selain itu, terpilih juga dua solusi prototipe IoT terbaik lainnya yang mendapatkan predikat “Top Contender” yaitu E-Clear, sebuah prototipe IoT yang dapat memantau dan memilah sampah menggunakan teknologi machine learning karya MAN 2 Nganjuk. Prototipe lainnya adalah Medi Gate yang memiliki solusi untuk membantu pembatasan jumlah pengunjung di suatu tempat guna mencegah penyebaran Covid-19 karya MAN 2 Kudus. Bagi kelompok peserta lainnya tetap akan memiliki kesempatan meraih predikat “The Most Attractive Idea”. Semua kelompok yang meraih predikat akan mendapatkan hadiah uang tunai dan lainnya dari Kemenag dan XL Axiata.

Secara umum, program Akademi Madrasah Digital dirancang secara khusus dengan melihat kebutuhan para pelajar Madrasah Aliyah di Indonesia. Program ini menyediakan serangkaian pelatihan daring (dalam jaringan) melalui situs mereka madrasah.elearn.id dan luring (luar jaringan) yang diisi dengan sederet materi pendukung. Dalam hal ini, XL Axiata juga memberikan dukungan dengan menyediakan karyawan dengan keahlian khusus dan berpengalaman sebagai pengajar dan pembimbing.

Previous
Previous

Platform Digital Ini Lancarkan Bisnis Franchise

Next
Next

Selamat Datang di Era Singularity