Mengikuti Jejak NASA, Cina Sudah Sampai Di Mars
Ilustrasi oleh Disrupto
Terdapat tiga pesawat luar angkasa yang diterbangkan bersamaan dengan NASA untuk mencapai planet Mars yaitu Tianwen-1 dari Cina serta Hope dari Arab Saudi. Setelah NASA dinyatakan berhasil lepas landas di Mars, Tianwen-1 pada 15 Mei 2021 juga ditemukan telah menjejakkan Rover-nya setelah tujuh bulan perjalanan.
Perjalanan Cina Di Luar Angkasa
Langkah Cina untuk sampai di Mars mencetak tonggak sejarah baru bagi negara tersebut. Cina sebelumnya juga telah melakukan eksplorasi luar angkasa dengan menerbangkan pesawat tanpa astronot untuk penelitian. Namun sebelumnya, Cina baru sampai di bulan untuk mengumpulkan material dari satelit bumi tersebut. Kini Cina dengan rover Zhurong berhasil sampai di Utopia Planitia, area landai di sebelah utara planet Mars.
Eksplorasi Cina di Mars
Diketahui rover Zhurong yang memiliki enam roda dengan tenaga matahari tersebut memiliki sejumlah kamera, instrumen dengan radar, laser, serta sensor yang dapat mengukur kondisi atmosfer di area yang dijajaki. Selain itu, Zhurong juga bisa sekaligus mengukur gaya magnetik di sana. Tujuannya jelas, untuk meneliti unsur tanah di planet Mars, mengumpulkan bukti-bukti kehidupan seperti air atau es yang berasal dari zaman kuno. Untuk mengambil sampel tersebut, Zhurong akan menggali lapisan tanah di sekitar area Utopia Planitia. Nantinya semua data yang ditemukan oleh rover asal Cina ini akan paralel dikirimkan kembali ke Bumi dengan pengorbit Tianwen-1.
Studi Permafrost Di Utopia Planitia
Permafrost adalah lapisan tanah beku yang berada di bawah suhu nol derajat, tersimpan cukup lama (maksimal dua tahun) dan tidak mencari dalam jangka waktu tersebut. Seorang ilmuwan luar angkasa, Robert Orosei dari Italia, menyatakan bahwa di sekitar area Utopia Planitia kemungkinan terdapat permafrost. Rover yang dimiliki Cina pun dapat mendeteksi kehadiran permafrost tersebut. Jika benar ditemukan, penelitian permafrost dapat mempermudah para ilmuwan untuk mengetahui perubahan iklim terkini yang terjadi di Mars. Faktanya, para peneliti masih belum menemukan jawaban atas hilangnya lapisan air yang sempat menggenangi daratan. Oleh sebab itu, permafrost yang berada pada lapisan dalam tanah bisa memberikan tambahan informasi melengkapi studi mereka.
Dengan bertambahnya penemuan-penemuan yang dilakukan negara-negara selain Amerika Serikat, informasi mengenai planet Mars akan semakin lengkap. Semakin bertambahnya informasi tersebut, para peneliti dapat bekerja lebih menyeluruh dalam menentukan apakah Mars dapat menjadi tempat yang aman untuk ditapaki oleh manusia. Selain juga untuk menentukan kapan waktu yang tepat untuk manusia mengunjungi planet merah tersebut tanpa harus khawatir akan perubahan iklim yang membahayakan.