Gibran Huzaifah: Melancarkan Misi Akselerasi Perikanan Indonesia

Ilustrasi oleh Disrupto

Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki potensi bisnis perikanan yang sangat besar. Akan tetapi, belum banyak wirausaha yang berinvestasi dalam bisnis tersebut dengan memanfaatkan teknologi untuk memajukannya. Kebanyakan wirausaha masih melakukan jual beli dengan cara konvensional. Adalah Gibran Huzaifah, seorang lulusan ITB yang pernah mengambil mata kuliah akuakultur yang terkenal cukup mudah memberikan nilai bagus. Gibran awalnya mengambil mata kuliah ini karena alasan tersebut. Namun ternyata, ia terinspirasi dari sang dosen yang menyatakan bahwa ikan lele akan menjadi tren di masa depan dan semua tergantung para mahasiswa apakah ingin menjadi bagian dari itu atau tidak. Merasa tertarik dan tertantang, setelah itu Gibran langsung menyewa kolam dan mulai budidaya lele.

Sumber foto: eFishery

Secara singkat, Gibran menjelaskan bahwa akuakultur merupakan bisnis perikanan yang dapat memudahkan proses produksi ikan sehingga tidak bergantung pada hasil tangkapan laut yang jumlahnya terbatas. “Produk akuakultur merupakan sumber protein hewani yang paling efisien produksinya dibandingkan dengan ayam maupun sapi. Feed Conversion Ratio (FCR) nya paling rendah dibandingkan yang lain. Sebagai contoh, dari 100 kg pakan yang diberikan, ikan dapat menghasilkan 61 kg daging, sedangkan ayam hanya menghasilkan 21 kg daging dan sapi hanya menghasilkan 10 kg daging. Di sini jelas bahwa akuakultur 80% lebih resource efficient. Selain itu, produk akuakultur juga jauh lebih ramah lingkungan. Jejak karbon yang dihasilkan 15 kali lebih rendah dibandingkan dengan daging sapi”, Gibran menjelaskan. 

Setelah mulai membudidayakan lele, Gibran bertemu dengan Chrisna Aditya, Co-founder eFishery, untuk membangun eFishery. Gibran mengakui banyaknya tantangan yang harus dihadapi saat mulai menjalankan eFishery, “Salah satu tantangan besar yang harus dihadapi adalah pengelolaan pakan yang merupakan isu utama dalam budidaya ikan. Pakan menyumbang lebih dari 80 persen dari total biaya produksi, namun metode pemberian pakan dengan tangan atau secara tradisional sangat tidak efektif, tidak efisien dan merugikan.  Akhirnya saya dan Chrisna memutuskan untuk membuat suatu teknologi yang dapat mengatasi masalah manajemen pakan tersebut.”

Sumber foto: eFishery

Selain itu, tantangan lainnya adalah kesulitan mengenalkan teknologi kepada para pembudidaya yang tidak terlalu dekat dengan teknologi sebagaimana masyarakat di perkotaan. “Di awal berdiri, saya sendiri harus bolak balik, berulang kali mendatangi pembudidaya secara langsung dan meyakinkan mereka untuk mencoba teknologi yang dibawa eFishery. Pada akhirnya pembudidaya mau mencoba, tetapi bukan karena mereka tertarik pada teknologinya, melainkan karena kasihan pada saya. Proses pengenalan teknologi kami yang berbasis IoT ini juga cukup menantang karena pembudidaya itu sehari-harinya jarang menggunakan internet. Dulu saat perkenalan alat, eFishery bahkan membuat sesi Internet 101 untuk mengajarkan pembudidaya cara membuat email, nonton YouTube, pakai Facebook, dan lainnya. Jadi bisa dikatakan eFishery memainkan peranan yang cukup penting dalam mengenalkan pembudidaya ikan kepada internet dan teknologi”, sambung CEO & Co-founder eFisher ini.

Bicara soal visi, eFishery berdiri dengan visi untuk menjadikan akuakultur sebagai sumber utama protein hewani di dunia. Gibran dan tim berambisi untuk mendisrupsi pasar akuakultur Indonesia senilai $9,4 miliar yang belum dimanfaatkan secara optimal. Pada dasarnya, eFishery menjalankan tiga misi: (1) memberi makan dunia melalui akuakultur, (2) memecahkan masalah mendasar menggunakan teknologi yang sangat terjangkau, (3) mengurangi ketimpangan dengan menciptakan ekonomi digital yang benar-benar inklusif. Dari teknologi yang dikembangkan, eFishery saat ini telah berkembang menjadi sebuah ekosistem end-to-end yang memberikan pembudidaya akses terhadap teknologi, penyediaan pakan dan pembiayaan, serta pasar. 

Sumber foto: eFishery

Jadi, menurut Gibran sebuah bisnis yang sukses bukan hanya bisnis yang menguntungkan, tapi juga adil, berkelanjutan, serta memberikan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan. Harapannya eFishery bisa menjadi bisnis dengan kriteria tersebut dan memberikan kontribusi pada Indonesia yaitu menjadikan Indonesia sebagai negara produsen akuakultur terbesar di dunia, menggeser Cina, dan membantu mengakselerasi dalam menjadikan akuakultur sebagai sumber protein hewani yang paling utama di dunia.

Previous
Previous

Produksi Susu Sapi Kini Dikembangkan Dengan Teknologi VR!

Next
Next

Penemuan Air di Bulan, Tanda Kehidupan?