Feeding The City: Pangan Alternatif Cegah Krisis Lingkungan
Isu terbesar di industri pangan saat ini adalah menipisnya lahan yang ada di bumi untuk pertanian. Tujuh puluh persen dari lahan tersebut digunakan untuk produksi daging. Ini dapat menjadi masalah jika nantinya di tahun 2050 populasi manusia melonjak dan tidak mengurangi konsumsi daging, bumi dapat semakin panas dan semakin tidak bisa ditinggali. Kenapa? Karena pertanian yang digunakan untuk produksi daging dapat menghasilkan gas metan yang jauh lebih berbahaya dari karbondioksida. Gas ini membuat lapisan ozon berlubang dan membuat bumi semakin panas.
Nantinya ketika bumi semakin panas, lingkungan semakin rusak, pertanian pun akan terkena dampak. Kekeringan, salah satunya. Bayangkan jika tidak ada lagi lahan yang bisa ditanami. Akhirnya kita juga tidak akan bisa makan daging karena hewan ternak tidak dapat makan. Oleh sebab itu, sebenarnya makanan berbasis tumbuh-tumbuhan adalah jenis pangan yang bisa menjaga keberlangsungan.
Menurut data, jika kita mengurangi konsumsi daging 50% secara global dari sekarang, kita bisa menyelamatkan bumi untuk bertahan lebih lama. Salah satu solusinya adalah dengan menerapkan planetarian diet di mana dalam satu piring kita setengahnya terdiri dari sayur dan buah, 30% karbohidrat, dan 20% protein yang setengahnya adalah protein hewani. Ini juga bisa dimaksimalkan dengan cara konsumsi hidangan berbasis tumbuhan selama lima hari dalam seminggu dan hanya dua hari saja konsumsi daging. Jadi kita mengatur 10% saja konsumsi protein hewani.
Photo courtesy of Burgreens
Dengan langkah tersebut, selain bisa menahan pemanasan global, kita juga bisa mengembalikan 25% lahan pertanian menjadi hutan. Ini penting karena semakin banyaknya hutan, bumi kita bisa lebih sejuk. Selain itu, kita juga bisa punya populasi ikan lebih banyak yang tentunya menambah jenis pangan untuk memberi makan masyarakat dengan meningkatnya populasi. Tidak hanya sekadar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mengubah pola makan juga bisa memengaruhi roda ekonomi. Lingkungan yang rusak tentu tidak akan dapat menggerakan roda ekonomi juga.
Di samping itu, pola makan yang beralih ke plant-based juga bisa jadi pilihan amat baik. Helga Angelina, Co-Founder Green Butcher, menjelaskan bahwa kini dengan kehadiran teknologi yang canggih kita bisa menikmati hidangan berbahan tumbuhan dengan rasa sama persis seperti daging. “Setelah 7 tahun menjalani Burgreens, restoran berbasis plant-based, saya menyadari bahwa kita tidak bisa memaksa orang untuk berhenti makan daging jika rasa pangan alternatif tidak memuaskan lidahnya. Sulit mengubah pola makan tersebut jika mereka merasa kehilangan sesuatu. Beruntunglah kita saat ini punya teknologi yang dapat mengubah rasa bahan makanan dari tumbuhan persis seperti rasa daging. Jadi mereka dapat tetap menikmati rasa daging seperti biasanya,” terangnya.
Akhirnya, Helga pun melansir Green Butcher yang merupakan produk plant-based meat siap masak. Semua produknya kebanyakan menggunakan bahan dasar kedelai. Tapi rasanya dapat dibuat sama seperti daging sapi dan ayam. Di Green Butcher terdapat sebuah mesin yang dapat membuat tekstur mirip daging. Dengan bahan-bahan tumbuhan yang berbeda-beda, mereka bisa menciptakan variasi jenis makanan yang bermacam-macam. Bahkan para konsumen akan sulit membedakan rasa daging yang berasal dari hewan atau tidak. Produk-produk Green Butcher juga tidak hanya ditujukan untuk konsumen yang datang ke Burgreens saja melainkan juga untuk para pebisnis restoran. Helga melengkapi, “Kami ingin mendorong para pelaku industri kuliner mengenalkan produk plant-based pada masyarakat. Sekalipun restoran mereka bukan berbasis plant-based. Kami ingin menjadi jembatan para konsumen yang suka daging untuk bisa pelan-pelan mengenal pola makan plant-based.”