Terbang Di Atas Sayap Raksasa

Disrupto-Article11-Aircraft.jpg

Bagaimana jika pesawat terbang di masa depan akan nampak seperti sayap raksasa?

Ini adalah konsep di balik MAVERIC, pesawat demo dari Airbus yang diluncurkan di Singapore Air Show 2020. Desain inovatif – dikenal sebagai blended wing body – yang berangkat dari arsitektur pesawat tradisional. Desain terbaru ini dapat menghasilkan penghematan bahan bakar hingga 20% dan secara signifikan meningkatkan pengalaman penumpang berkat tata ruang kabinnya yang sangat luas. Desainnya sangat radikal, meski pada awalnya beberapa insinyur tidak percaya pada potensi MAVERIC di pesawat ini akan menjadi standar bagi generasi pesawat berlorong tunggal (narrow-body aircraft) selanjutnya.

Pesawat ini berbentuk konfigurasi antara tabung dan sayap konvensional dengan mesin yang dipasang di sayap. Sebuah bentuk yang diidam-idamkan para penggemar aviasi. Suatu hari nanti, penumpang akan bepergian dengan pesawat ikonik ini, pesawat terbang dengan model yang sangat berbeda dengan model yang ada sekarang.

“Awalnya, banyak yang menganggap proyek MAVERIC hanya sebagai hobi. Kami harus membuktikan bahwa mereka salah, dengan menunjukkan bahwa Airbus dapat menghasilkan standar yang sangat baik untuk konfigurasi pesawat masa depan." Kata Adrien Bérard, Co-Leader Project MAVERIC.

Hal ini dibuktikan oleh tim proyek MAVERIC yang berjumlah 10 orang, mereka merupakan bagian dari Flight Lab Team dalam Airbus UpNext di Toulouse, Perancis. Dalam waktu kurang dari tiga tahun, konsep MAVERIC berubah dari sketsa sederhana menjadi model 3D yang dihasilkan komputer menjadi pesawat demo. Pada Juni 2019, pesawat demo dengan panjang 2 meter dan lebar 3 meter ini naik ke langit untuk pertama kalinya dengan dikendalikan dari jarak jauh, 

Pengembangan MAVERIC memungkinkan Airbus untuk mempercepat pemahaman tentang konfigurasi pesawat baru dan untuk mematangkan teknologi yang diperlukan untuk menerbangkan pesawat yang sangat berbeda.

Bahkan, pesawat demo MAVERIC telah dibuat sama persis dengan pesawat Airbus lainnya. Misalnya, melakukan pengujian terowongan angin untuk memverifikasi karakteristik aerodinamis MAVERIC — seperti semua pesawat Airbus lainnya — di Filton, Inggris. Jenis tes ini membantu mengidentifikasi dan menganalisis tantangan teknis yang mungkin dihadapi.

Salah satu tantangan yang spesifik adalah untuk menilai dinamika kecepatan rendah dan stall (keadaan pesawat yang kehilangan gaya angkat sehingga tidak sanggup lagi melayang di udara sehingga jatuh dari ketinggian dan tidak terkendali. Stall akan terjadi ketika daya angkat hilang). Pengujian di masa depan akan menganalisis aspek-aspek seperti kualitas penanganan MAVERIC, kontrol penerbangan, multi-objective control surface, dan modularitas.

“Kami memahami bahwa masyarakat berharap pada Airbus untuk meningkatkan kinerja lingkungan dari pesawat kami. Konfigurasi blended wing body MAVERIC adalah game changer dan kami ingin mendorong teknologi hingga batasnya,” tambah Adrien Bérard.

Bagi Airbus nyatanya, potensi pesawat demo untuk memberikan manfaat kinerja lingkungan terbilang sangat menarik: bahan bakar yang digunakan sekitar 20% lebih sedikit dibandingkan dengan model pesawat lorong tunggal yang ada saat ini, dengan mesin yang sama. Konfigurasi yang luas juga membuka ruang desain, memungkinkan integrasi yang mungkin dari berbagai jenis sistem penggerak lainnya. Selain itu suara bising diharapkan berkurang secara signifikan berkat mesin "terlindung" yang dipasang di atas bodi tengah.

Dan, jika dikomersialkan, pesawat yang terinspirasi MAVERIC dapat secara signifikan meningkatkan pengalaman penumpang. Desain blended wing body memberikan tata letak kabin yang sangat nyaman, memungkinkan penumpang untuk mendapatkan ruang kaki tambahan dan lorong yang lebih besar untuk kenyamanan yang lebih pribadi.

Previous
Previous

Kucuran Investasi di Tengah Pandemi

Next
Next

Mata Buatan Yang Luar Biasa