Printer Pencetak Makanan, Solusi Pangan di Masa Depan
Ilustrasi oleh Disrupto
Perkembangan teknologi 3D printing kini sudah semakin maju. Sering kita jumpai dalam proses manufaktur, metode 3D printing dinilai lebih efisien apalagi jika dibandingkan dengan metode manufaktur konvensional dikarenakan material yang digunakan dengan metode ini lebih sedikit. 3D printing masuk ke dalam kategori Additive Manufacturing, yaitu proses menambahkan material untuk menciptakan sesuatu. 3D printing tidak membutuhkan cetakan, alhasil memungkinkan penciptaan benda dengan tingkat kompleksitas tinggi. Selain bermanfaat dalam industri manufaktur, 3D printing juga disinyalir dapat menjadi masa depan industri makanan.
Mencetak Makanan
Penggunaan teknologi 3D printing pada makanan sebenarnya bukanlah hal baru. Dipelopori oleh Cornell University di tahun 2006, dimana mereka membuat printer untuk membuat makanan dengan bahan dasar coklat. Saat ini, 3D printer makanan yang paling canggih memiliki resep yang sudah diprogram sehingga memungkinkan penggunanya untuk membuat makanan mereka dari jarak jauh melalui komputer atau ponsel. Teknologi ini dapat menyesuaikan bentuk, warna, tekstur, rasa bahkan nutrisi dari makanan yang dibuatnya. Saat ini 3D printer makanan kerap digunakan dalam experimen medis dan misi explorasi luar angkasa, namun tidak menutup kemungkinan di masa depan teknologi ini tersedia untuk semua orang.
SavorEat
Perusahaan startup teknologi makanan asal Israel, SavorEat, telah membuat alternatif daging dengan menggunakan teknologi 3D printing. Produk SavorEat menggabungkan teknologi manufaktur aditif dengan bahan dasar nabati untuk menciptakan tekstur menyerupai daging yang sesungguhnya. Baru-baru ini mereka meluncurkan produk terbaru mereka yaitu burger kalkun vegan dan roti babi halal. Dengan ini mereka mengharapkan produknya dapat menarik perhatian orang-orang yang sebelumnya tidak tertarik untuk mencoba daging nabati.
Lebih Baik untuk Lingkungan
Industri peternakan bertanggung jawab atas setidaknya 23 persen dari semua gas pemanasan global, sementara amonia dari urin ternak juga dapat menyebabkan hujan asam. Sekitar 3.785 liter air dibutuhkan untuk menghasilkan 1 pon (0,4 kilogram) daging sapi. Peternakan sapi juga menyumbang 70% hingga 80% dari perusakan hutan hujan Amazon. Dengan menggunakan teknologi 3D printing untuk menciptakan daging nabati, diharapkan dapat mengurangi dampak buruk industri peternakan terhadap lingkungan.