Penyandang Disabilitas dan Wanita Bisa Jadi Astronot Yang Lebih Baik
Setelah 11 tahun lamanya, akhirnya European Space Agency (ESA) mengadakan perekrutan astronot kembali dengan salah satu misinya untuk menciptakan keberagaman.
Keberagaman Tenaga Kerja
Dari 560 orang yang pernah pergi ke luar angkasa, hanya ada 65 perempuan dan 51 di antaranya berasal dari Amerika Serikat. Direktur Jenderal ESA, Jan Woerner, mengamati fenomena ini dan berharap agar tercipta keberagaman di dalam bidangnya yaitu bidang antariksa.
ESA telah mencoba memperbaiki angka yang tidak seimbang tersebut dengan menambahkan wanita yang pergi ke luar angkasa. Meskipun ingin mencapai keberagaman, langkah ini tidak dapat diambil secara gegabah karena dapat berakibat fatal. Terdapat mitos pada zaman dahulu bahwa laki-laki berkulit putih memiliki tingkat adaptasi yang lebih tinggi saat di luar angkasa. Namun ternyata justru tubuh penyandang disabilitas dan perempuan lah yang beradaptasi lebih baik dalam kondisi microgravity atau kondisi di mana percepatan gravitasi sangat kecil. Seorang profesor beranggapan, merekrut karyawan yang lebih beragam itu tidak cukup. Melainkan ESA dan industri luar angkasa harus berubah dengan cara yang lain. Dengan kata lain, industri luar angkasa harus didesain ulang dari awal.
Parastronout Project
Ilustrasi oleh European Astronout Agency
Ini adalah pertama kalinya di dunia, di mana sebuah badan antariksa membuka lowongan pekerjaan yang memperbolehkan penyandang disabilitas untuk mendaftar. Keberagaman yang ingin dikejar tidak melulu membahas asal, usia, latar belakang, jenis kelamin, tetapi juga cacat fisik akan menjadi keberagaman yang lebih. Perubahan ini diharapkan menjadi motivasi bagi seluruh masyarakat agar menyadari bahwa semua orang memiliki peluang bekerja di luar angkasa.