Menghilangkan Batasan Dunia Realita dan Virtual dengan Lensa Kontak Augmented Reality
Ilustrasi oleh Disrupto
Teknologi Augmented Reality memang sedang pesat dikembangkan. Menggabungkan dunia virtual dengan realita, Augmented Reality dipercaya dapat mempermudah aktivitas sehari-hari. Sampai saat ini, teknologi AR dapat diakses oleh kita semua dengan menggunakan gadget seperti kacamata VR bahkan smartphone terkini. Tentunya, pengaplikasian teknologi VR membutuhkan kehadiran gadget-gadget tersebut yang terkadang kurang praktis kita gunakan dalam aktivitas sehari-hari. Perusahaan teknologi asal Amerika Serikat, Mojo Vision, ingin memecahkan permasalahan tersebut dengan ciptaan terbarunya yaitu lensa kontak Augmented Reality.
Sejarah Augmented Reality
Sebenarnya, teknologi Augmented Reality (AR) sudah ada sejak tahun 60-an. Namun, istilah ‘augmented reality’ baru muncul di tahun 1990, dicetuskan oleh peneliti Boeing, Tim Caudell. Teknologi ini telah berkembang pesat dengan penggunaan yang terus bertambah. Dari simulasi NASA hingga pengalaman pemasaran yang imersif, augmented reality membuat tugas lebih mudah, dan pastinya lebih menyenangkan. Selama 50 tahun terakhir, teknologi imersif ini telah mengubah cara kita mengonsumsi konten di dunia nyata.
Tes Pertama
Mojo Vision telah berhasil melakukan tes otentik pertama dari lensa kontak augmented reality kepada manusia. Tes itu dilakukan di laboratorium penelitian di Mojo Vision di Saratoga, California. Hal ini menjadi bukti seberapa jauh teknologi AR telah berkembang selama 30 tahun terakhir. Drew Perkins, CEO Mojo Vision, mengumumkan bahwa dia adalah orang pertama yang mendapatkan demonstrasi teknologi secara langsung. Saat ini, dia hanya memakai satu lensa pada satu waktu, dan hanya dalam satu jam. Tujuan akhir Mojo Vision adalah membuat dua lensa berfungsi sebagai pasangan, memungkinkan pemakainya melihat gambar dalam 3D, mirip dengan cara kerja VR dan AR saat ini.
Tantangan Teknik
Membangun lensa kontak augmented reality yang dapat dipakai adalah tantangan teknik yang sangat sulit. Mojo Lens memiliki layar MicroLED 14.000 piksel per inci dengan pitch piksel (jarak antara piksel yang berdekatan) 1,8 mikron. Sebagai komparasi, iPhone 13 dengan Layar Super Retina XDR hanya memiliki resolusi 460 piksel per inci. Hal ini membuat Mojo Lens memiliki kepadatan piksel sekitar 30 kali lipat dari iPhone saat ini. Selain itu, lensa ini termasuk prosesor ARM dengan pemancar radio 5GHz, bersama dengan akselerometer, giroskop, dan magnetometer untuk melacak pergerakan mata. Menurut Mojo Vision, lensa prototipe saat ini menggunakan baterai mikro kelas medis. Teknologi ini masih jauh dari sempurna, tetapi Mojo Vision percaya bahwa saat ini mereka berada di jalur yang tepat untuk mengembangkan teknologi ini dan akan mendapatkan persetujuan FDA (Food and Drug Administration). Kedepannya nanti, Mojo Vision berencana untuk melakukan beberapa studi klinis untuk memastikan orang dapat menggunakan lensa Mojo dengan aman dalam jangka waktu yang lebih lama. Perkins mengatakan dia yakin kita sekitar sepuluh tahun lagi untuk memiliki perangkat ini di kepala kita.