Ambisi Dole Mengeliminasi Sampah Makanan

Disrupto-Article23-BananaPineapple.jpg

Setiap tahunnya, perusahaan agrikultur Dole memanen miliaran buah pisang – ya, jumlahnya hingga miliaran! Konon, pisang merupakan buah paling populer di dunia hingga tak heran jumlah produksinya bisa mencapai angka yang fantastis. Selain pisang, Dole pun mengelola panen buah-buahan lainnya seperti nanas. Namun sayangnya tak semua buah-buahan tersebut berakhir di perut manusia. Sebagian dari jumlah miliaran buah tersebut hilang di rantai pasok (supply chain – red.) sehingga secara tidak langsung menyia-nyiakan energi, gizi, dan uang yang seharusnya didapat. Selain itu, produksi sampah turut meningkat dari bagian buah yang tidak dimakan seperti daun, kulit, dan batang pohon.

Berangkat dari permasalahan itu, Dole baru saja mengumumkan rencana untuk menghilangkan kerugian-kerugian tersebut sepenuhnya dalam lima tahun ke depan. Melalui laboratorium riset dan pengembangannya, Dole tengah berupaya untuk mengeksplorasi kemungkinan penggunaan kulit nanas dan daun pisang untuk kemasan, produk derivatif dari buah seperti cemilan, minuman, atau bahkan kosmetik dengan menggunakan buah-buahan kurang sempurna yang ditolak kontrol kualitas untuk supermarket, dan mengolah sisa-sisa sampah di fasilitas biogas yang mengubah makanan menjadi tenaga listrik untuk pabrik-pabrik pengolahan buah mereka.

Rencana tersebut akan digulirkan secara bertahap mulai dari Kemasan ramah lingkungan pada 2025, mengeliminasi emisi karbon hingga nol persen pada 2030 lewat langkah strategis seperti berpindah pada perkebunan dengan energi terbarukan dan menggunakan truk listrik untuk pengantaran produk. Namun tujuan utama dari Dole adalah untuk memperkecil tingkat buah yang ‘hilang’ di rantai pasok hingga nol persen pada 2025.

Menurut Presiden Direktur dari Dole, Pier Luigi Sigismondi, jika sampah makanan diibaratkan sebagai suatu negara, ia akan menjadi negara ketiga setelah Amerika Serikat dan Cina yang memberi dampak bagi pemanasan global, seperti yang dikutip dari pernyatannya pada FastCompany.

Menurutnya lagi, kesemua permasalahan ini menjadi penting karena saling terkait antara satu sama lain. Misalnya saja saat kita menyia-nyiakan buah atau makanan, kita berarti turut ‘membuang’ energi dan air yang digunakan untuk menanam, memanen, mengantar, dan membungkusnya. Selain itu, saat makanan masuk ke tempat pembuangan sampah dan kemudian membusuk, ia akan memproduksi gas metana yang merupakan gas rumah kaca dan jauh lebih berbahaya dibandingkan karbon dioksida.

Saat kita menyia-nyiakan buah atau makanan, kita berarti turut ‘membuang’ energi dan air yang digunakan untuk menanam, memanen, mengantar, dan membungkusnya.

Saat ini, beberapa buah dengan bentuk tidak sempurna juga turut menjadi sia-sia karena ada standar ‘kecantikan’ tersendiri di industri ritel. Pier Luigi menambahkan, “Sebagai sebuah industri, kita harus menetapkan standar berbeda dan merayu konsumen bahwa meskipun beberapa buah terlihat tidak sempurna, bukan berarti dia tidak lezat atau bernutrisi.” Sesungguhnya langkah ini telah diambil oleh beberapa perusahaan rintisan seperti Imperfect Produce di Amerika Serikat atau Sayurbox di Indonesia yang menawarkan buah-buahan kurang sempurna dengan harga di bawah rata-rata.

Meski langkah-langkah Dole ini tidak akan sepenuhnya menghilangkan sampah dari proses bisnis, namun setidaknya mereka dapat meminimalisir jumlah buah yang hilang dalam perjalanan dari perkebunan menuju supermarket karena rusak atau berjatuhan. Pier Luigi juga berharap bahwa langkah ini juga diambil oleh seluruh pemain dalam industri agrikultur agar semuanya dapat berjalan menuju satu tujuan yang sama dalam memerangi kerusakan lingkungan.

Previous
Previous

Instagram, Surat Kabar Generasi Z

Next
Next

Realita Baru Live Event