Ghufron Mustakim: Bangun Social Commerce Untuk Tingkatkan Jumlah Wirausaha
Ilustrasi oleh Disrupto
Bisnis ecommerce yang terbilang sudah merajalela di Indonesia sudah bukan sesuatu yang asing untuk didengar. Sederetan ecommerce yang sukses menjadi startup unicorn mendukung popularitas model bisnis jual beli online. Perkembangan bisnis ecommerce juga terus berkembang, terbukti dengan adanya berbagai model bisnis ecommerce baru seperti social commerce.
Salah satu bisnis social commerce di Indonesia yang sedang naik daun adalah Evermos yang menjadi jembatan antara para produsen dengan reseller. Ghufron Mustaqim, Co-founder dan CEO Evermos, menjelaskan bahwa definisi social commerce itu sendiri sebenarnya cukup luas. Pada dasarnya, konsep jual beli yang diterapkan sama dengan jenis ecommerce lainnya. Perbedaannya terletak pada proses jual beli yang mana social commerce mengandalkan koneksi sosial dari para reseller yang bergabung di Evermos. Koneksi sosial tersebut bisa berasal dari lingkaran terkecil para reseller mulai dari lingkar keluarga, tetangga, dan teman-teman. Jadi, social commerce menekankan pada “modal” sosial yang dimiliki oleh para penjual. Menariknya, di Evermos mereka diajarkan berbagai strategi untuk memperluas jaringan bisnis.
“Para pemilik produk atau produsen butuh tenaga reseller agar dapat memudahkan mereka untuk berjualan tanpa perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk menggaji individu. Secara umum, para reseller mendapat komisi dari penjualan tanpa ada penghasilan tetap. Jadi, peran para reseller sangat penting bagi para produsen karena bisa menekan bujet pemasaran. Tapi, mengelola reseller sebenarnya tidak selalu mudah. Inilah solusi yang ditawarkan Evermos dengan teknologi yang kami kembangkan untuk mengelola reseller dengan maksimal”, jelas Ghufron.
Dalam aplikasi Evermos, para pemilik brand atau produsen tidak lagi perlu repot untuk mengatur alur komunikasi dengan para reseller. Terdapat sistem order management yang menyusun segala aktivitas jual beli antara para produsen dan reseller. Para pemilik brand tidak lagi perlu menyusun pemesanan produk secara manual. Selain itu, Evermos juga menyediakan berbagai pelatihan di platform digitalnya yang dilengkapi dengan program loyalty untuk mengembangkan kemampuan para reseller agar semakin hari semakin profesional dan pintar berjualan.
Ghufron memaparkan lebih lanjut, “Aspek edukasi termasuk pelatihan soft skill dan hard skill jadi poin penting yang ingin diutamakan oleh Evermos. Kita tahu setiap hari di era modern ini pasti ada perubahan cara berjualan. Oleh karena itu, Evermos berupaya untuk menawarkan cara-cara berjualan yang terbukti efektif dan adaptif dengan perubahan terkini sehingga bisa membekali para reseller.”
Program-program edukatif yang diusung Evermos pun sekaligus menjadi bagian dari visi misi startup yang telah mendapatkan pendanaan seri B tersebut. “Kami ingin membantu para wirausaha di Indonesia agar dapat berbisnis dengan mudah dan sukses. Untuk mencapai kesuksesan itu tentu saja perlu ada pengembangan kapasitas termasuk pengembangan sosial sehingga para wirausaha yang memilih jadi reseller dapat lebih tangguh sehingga dapat berjualan dengan efektif. Dengan demikian, para reseller juga sekaligus dapat mengembangkan produk-produk lokal. Harapannya, semakin berkembangnya produk-produk lokal maka Indonesia juga bisa mencapai kesejahteraan, keadilan dan kemakmuran”, tutup Ghufron.