Benarkah Menggabungkan Vaksin Berbeda Bisa Tingkatkan Imunitas?

Ilustrasi oleh Disrupto

Ilustrasi oleh Disrupto

Hingga saat ini, kita masih dilanda masalah penyebaran vaksin untuk mengatasi virus Covid-19 yang belum bisa diprediksi kapan akan usai. Sementara itu, ketersediaan vaksin untuk satu merek saja bisa dibilang tidak akan mencukupi seluruh masyarakat. Keadaan ini menimbulkan pertanyaan kepada para peneliti: Apakah mungkin mengganti produk vaksin di tahap kedua bisa dilakukan sebagai solusi jika sewaktu-waktu vaksin yang diberikan di tahap pertama habis?

Menggunakan Vaksin Berbeda Di Tahap Kedua

Peraturan menggunakan vaksin di setiap negara berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh perbedaan musim dan kondisi kesehatan masyarakatnya. Negara-negara seperti Jerman dan Perancis sudah memperbolehkan masyarakat untuk menggunakan dua produk vaksin berbeda untuk tahap pertama dan kedua. Jika stok produk vaksin tertentu terbatas. Sementara Kanada masih dalam proses pertimbangan kemungkinan tersebut. 

Sejumlah peneliti pun sudah memulai risetnya untuk mengetahui apakah menggunakan dua produk vaksin berbeda bisa efektif dan aman untuk tubuh manusia. Spanyol yang menggunakan vaksin Oxford-AstraZeneca, kini sedang mengembangkan riset untuk menggunakan Pfizer di tahap suntik kedua. 

Photo by Nataliya Vaitkevich from Pexels

Sejalan dengan ini, para peneliti Universitas Oxford sedang mengolah studi Com-CoV untuk membuktikan apakah dua suntikan vaksin yang berbeda bisa efektif. Studi ini akan diuji dengan meminta partisipan mendapat suntikan vaksin Pfizer atau Oxford-AstraZeneca di tahap pertama dan Moderna atau Novavax di tahap kedua. Selain itu, sejak akhir tahun lalu, tim peneliti Oxford-AstraZeneca juga menyatakan akan bekerja sama dengan Gamalyea Institute dari Rusia untuk mengembangkan vaksin Sputnik V untuk pengujian penggabungan vaksin dalam studi lainnya. Begitu pula dengan Cina yang sedang dalam eksplorasi efektivitas dua jenis vaksin berbeda untuk tubuh manusia.

Jika riset dan pengembangan vaksin tersebut hasilnya positif, ini dapat menjadi solusi menyelesaikan berbagai masalah produksi dan distribusi vaksin secara global. 

Percobaan Menggabungkan Dua Jenis Vaksin Berbeda

Pada dasarnya, vaksin Covid-19 menggunakan unsur protein dalam virus corona dalam pembuatannya. Walaupun setiap produk vaksin dibuat dengan menggunakan bagian yang berbeda-beda. Pfizer dan Moderna menggunakan unsur protein dengan pemanfaatan RNA (Ribonukleat Acid) yang merupakan salah satu materi genetik yang terdiri dari nukleotida, sementara Novavax menggunakan protein spike (bagian ujung virus yang menyerupai duri) dan Sinovac menggunakan keseluruhan virus yang sudah mati.

Dengan kesamaan unsur yang digunakan dalam pembuatan vaksin, terdapat sebuah proposisi yang diprediksi justru dapat memiliki manfaat lebih yaitu menggabungkan dua produk vaksin. Para peneliti menduga menggabungkan dua produk vaksin bisa meningkatkan imunitas tubuh manusia karena proses pembuatan yang saling melengkapi. 

Kesimpulan

Meskipun sejumlah peneliti menemukan adanya potensi dalam penggabungan dua produk vaksin berbeda, tapi bukti-bukti yang kuat bahwa gabungan dua vaksin dapat meningkatkan daya tahan tubuh juga belum ditemukan. Kendala lain dalam pengembangan vaksin adalah perusahaan-perusahaan yang memproduksi vaksin tidak memiliki waktu atau biaya lebih untuk mengembangkan penggabungan vaksin. Akan tetapi, sejak pandemi prosedur pengembangan vaksin telah berubah sehingga gagasan penggabungan dua vaksin berbeda masih memungkinkan. Tentu saja jika dua produsen vaksin mau berkolaborasi secara intensif untuk tujuan yang sama.

Previous
Previous

Seberapa Penting Indonesia Punya Pusat Data?

Next
Next

Gadget Picks: Perangkat Untuk Para Kreator Konten