Konsep Smart City Ternyata Berbahaya

Ilustrasi oleh Disrupto

Ilustrasi oleh Disrupto

PBB memperkirakan pada 2050 dua pertiga populasi global akan tinggal di perkotaan, angka tersebut meningkat lebih dari 50 persen. Namun, saat ini investasi pemerintah pusat lebih berfokus pada pedesaan. Sementara investasi di daerah perkotaan terus menyusut setiap tahunnya. Pada awalnya, smart city hadir menjadi solusi untuk masalah ini tapi ternyata format smart city bisa menimbulkan masalah lainnya.

Apa itu smart city?

Secara umum smart city adalah kota yang menggunakan teknologi untuk memberikan pelayanan dan menyelesaikan permasalahan kota. Tujuan utama smart city adalah untuk meningkatkan efisiensi kebijakan pemerintah, mengurangi limbah, mengurangi ketidaknyamanan, meningkatkan kualitas sosial dan ekonomi, serta memaksimalkan inklusi sosial. Dapat dikatakan smart city juga harus memiliki elemen-elemen “pintar” di dalamnya sebagai contoh yaitu, Smart Energy, Smart Water, Smart Public Services, Smart Building, Smart Data Center, Smart Government, Smart Economy, Smart Live, Smart Living, Smart People, Smart Mobility, dan lain-lain. Elemen-elemen tersebut akan terhubung secara pintar melalui sistem Smart Integration, dan juga dapat bekerja sama meningkatkan kepintaran kota dalam Smart Collaboration.

Lalu apa yang menjadi bahaya?

Melalui sistem konektivitas yang lebih besar muncul juga risiko yang lebih besar. Serangan melalui dunia maya atau secara online terhadap infrastruktur kota pintar dapat menjadi bencana besar. Sebagai contoh, serangan terhadap jaringan listrik kota. Dengan sistem yang saling terhubung, listrik kota dapat dengan sekejap dimatikan dalam waktu lama yang bisa melumpuhkan bisnis dan aktivitas penduduk. Contoh lain adalah sensor Internet of Things (IoT) yang digunakan untuk memberi sinyal pada pengumpul sampah kapan harus mengambil sampah. Akibatnya, sampah akan menumpuk selama berminggu-minggu. Hal tersebut menimbulkan ketidaknyamanan masyarakat dan dapat menjadi risiko kesehatan masyarakat. Terlebih lagi, smart city mengambil data masyarakat termasuk informasi pribadi dalam proses pengembangannya. Sejumlah data tersebut berpotensi menimbulkan cyber crime.

Oleh karena itu pembangunan smart city harus didasari keamanan yang jauh lebih pintar. Keamanan juga harus dibangun dan dimasukan ke dalam sistem smart city tersebut. Dengan kata lain, smart city belum tentu menjadi keunggulan sebuah kota. Smart city justru dapat menjadi ancaman jika tidak diseimbangi dengan keamanan yang ada.

Previous
Previous

Game Buatan Indonesia Ini Raih Pendanaan 22 Miliar!

Next
Next

Gadget Picks: Laptop Premium Untuk Wishlist Kamu