Kini Depresi Bisa Diatasi Dengan Implan Otak!

Ilustrasi oleh Disrupto

Depresi jadi salah satu kondisi yang bisa mengganggu suasana hati maupun pikiran. Biasanya, depresi ditandai dengan perasaan sedih yang mendalam dan rasa tidak peduli. Mereka yang mengalami depresi merasakan cemas, putus asa, kurang motivasi dan merasa bersalah atau penyesalan yang dalam. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), hampir sekitar 300 juta orang di seluruh dunia hidup dengan depresi. 

Akibat depresi, banyak dari mereka yang ingin mengakhiri hidupnya. Banyak dari mereka yang sudah mengikuti berbagai terapi, konseling, dan pengobatan, tapi gagal. Beruntungnya, para ilmuwan dan peneliti di seluruh dunia terus berusaha untuk mencari pengobatan baru untuk penyakit ini. Bahkan sekarang, terobosan ilmiah terbaru untuk mengatasinya adalah dengan melakukan implan otak.

Sumber foto: MART PRODUCTION

Pengobatan Menggunakan Alat Pacu Jantung

Peneliti dan klinisi asal Amerika Serikat di University of California San Francisco (UCSF) sudah mengembangkan alternatif tradisional untuk mengobati depresi. Pengobatan depresi ini membutuhkan alat pacu jantung yang dirancang khusus untuk setiap orang. Sejauh ini, implan otak sudah dilakukan pada satu pasien dan mendapat hasil positif.

Terdapat satu pasien pertama yang mengalami depresi telah melakukan implan otak tersebut. Tim ilmuwan di UCSF menanamkan perangkat seukuran kotak rokok di tengkoraknya dengan dua elektroda yang ditanamkan di dalam otak. Yang pertama bertugas memantau sirkuit saraf untuk mendeteksi perubahan fungsi otak. Yang kedua bertugas mengirimkan rangsangan listrik kecil untuk menyesuaikan aktivitas otak. Elektroda yang kedua berfungsi untuk meringankan rasa depresi yang terjadi. Para peneliti kemudian mendeteksi dua bagian di otaknya. Bagian pertama disebut amigdala, bagian yang mampu mendeteksi gejala depresi pasien. Di bagian ini, otak akan bertanggung jawab atas emosi yang dialami seperti ketakutan dan kemarahan. Yang kedua adalah bagian kapsul ventral di mana stimulasi listrik menyebabkan reaksi suasana hati terbaik pasien. Di kapsul ventral, otak akan merangsang emosi, motivasi, untuk menghilangkan perasaan depresi yang dialami.

Tidak Semua Depresi Sama

Metode yang digunakan pada pasien tersebut dikembangkan menggunakan sistem Personalized Deep Brain Stimulation (DBS). Stimulasi otak dalam mampu memicu muatan listrik yang mengatur ulang fungsi otak pasien. Secara tradisional, perangkat DBS tersebut hanya mampu mengirimkan impuls listrik konstan ke satu area otak. Tidak semua orang memiliki depresi yang sama. Itu artinya, perangkat yang digunakan berbeda untuk setiap orang. Beruntung metode pengobatan yang dilakukan pada sang pasien sesuai dan berhasil. Untuk melakukan penyesuaian antara perangkat dan gejala depresi pasien tersebut, para peneliti melakukan riset terhadap otaknya selama 10 hari. Mereka menempatkan elektroda tadi di lokasi otak yang berbeda. Hingga akhirnya mereka berhasil membuat peta pola depresi yang dialaminya.

Perangkat ini bukan tanpa risiko. Elektroda yang ditempelkan pada otak bisa menyebabkan pendarahan. Terlepas dari hal itu, terobosan ini masih akan terus berkembang dan bermanfaat untuk masa depan. Dua pasien lain sekarang terdaftar dalam uji coba implan otak selanjutnya.

Previous
Previous

Apakah Mobil Listrik Akan Jadi Tren Di Indonesia?

Next
Next

NASA Siap Buat Jaringan WiFi Di Bulan, Untuk Apa?