Feeding The City: Bertani Di Kota
Ilustrasi oleh Disrupto
Masalah isu yang sekarang menjadi sangat krusial diprediksi akan bertambah buruk di lima tahun ke depan. Sebagian besar masyarakat yang tinggal di perkotaan meningkatkan kebutuhan akan pangan. Sementara produksi pangan berlebih dapat mengakibatkan masalah-masalah lain yang muncul di sekitar kita seperti pemanasan global. Hal ini juga dikonfirmasi oleh Mush’ab Nursantio, co-founder Sentrafarm sekaligus praktisi pertanian.
Ia mengatakan, “Di tahun 2050 populasi kita akan mencapai 9 milyar orang di mana 80% dari mereka akan tinggal di perkotaan. Dengan begitu, kebutuhan pangan pun meningkat. Akan tetapi, di waktu yang sama kita akan mengalami masalah perubahan iklim yang memengaruhi ketahanan pangan karena mengurangi kesuburan lahan. Masalah lainnya di Indonesia, terutama, adalah regenerasi petani. Sedikit sekali orang yang mau menjadi petani dan sedikit yang memiliki edukasi tinggi untuk menciptakan produk-produk teknologi di bidang pertanian.”
Apa solusinya?
Urban farming atau kegiatan bercocok-tanam di area urban bisa menjadi salah satu solusi untuk mempertahankan keberlangsungan pangan tanpa harus menimbulkan masalah lingkungan lainnya. Kini siapapun bisa bercocok-tanam dengan berbagai cara di lingkungan rumah, baik di rumah sendiri atau di perumahan. Dalam lingkup komunitas, para individu dapat bersama-sama menggarap satu kavling tanah yang tidak terpakai di perumahan misalnya. Kemudian mulai menanami dengan sayur atau buah-buahan yang mudah dirawat. Kalau minim tanah, teknik hidroponik dan akuaponik dapat jadi solusi. Mush’ab menyatakan bahwa indoor vertical farming juga dapat jadi langkat tepat untuk menghasilkan produk sayur-mayur tanpa perlu lahan yang luas.
Indoor Vertical Farming
Indoor vertical farming tidak membutuhkan banyak ruang dengan sistem penanaman bersusun. Di Sentra Farm sendiri, Mush’ab menggunakan ruangan sebesar 200m2 yang dapat menghasilkan produk sayur-sayuran setara dengan lahan seluas 8000m2. Di dalam ruangan ini, diciptakan microclimate di mana kita bisa mengatur sendiri suhu ruangan, kelembapan, kandungan karbondioksida, dan eksposur cahaya dengan penggunaan lampu LED. Bahkan kini “kulkas” untuk bercocok-tanam sayur-sayuran sudah tersedia sehingga dapat lebih mudah untuk memulai urban farming. Kulkas vertical farming ini cocok sekali untuk mereka yang tinggal di apartemen.
“Penerapan microclimate juga sangat berpengaruh terhadap hasil produksi. Kita bisa menghasilkan lebih banyak karena paparan sinar yang tidak terbatas waktunya, tidak adanya penggunaan pestisida, serta karakteristik hasil panen yang sesuai keinginan. Kita bisa buat sayuran rasanya lebih renyah, manis, atau kadar antioksidannya lebih tinggi. Metode menanam ini juga sangat ramah lingkungan karena menggunakan air lebih sedikit dan meninggalkan jejak karbon lebih sedikit karena distribusi yang dekat dengan pelanggan. Bahkan ke depannya, Sentra Farm berencana mengganti sinar LED dengan solar panel,” jelas Mush’ab kembali.
Manfaat dalam skala besar
Indoor vertical farming bisa sangat cocok diterapkan di kota-kota yang tanahnya kurang subur atau minim lahan seperti Singapura dan Abu Dhabi. Metode menanam ini juga dapat mengalih-fungsikan lahan-lahan yang tadinya digunakan untuk sayur menjadi bahan makanan dasar yang masih sering diimpor seperti kentang dan beras. Selain itu, bertani dengan cara ini juga dapat mencegah meningkatnya isu food waste karena sayur yang sudah panen bisa langsung didistribusikan. Maka, kebusukan sayur yang terjadi dalam proses distribusi bisa dicegah.